Total Tayangan Laman

Selasa, 10 November 2015

RAPAT KOORDINASI P2TP2A BENGKALIS DENGAN SATGAS P2TP2A KECAMATAN MANDAU









Tidak Terima Dengan Laporan, Kepsek dan Ketua P2TP2A Bengkalis Tuding Wartawan Pembuat Masalah

BENGKALIS, LineRiau.com - Sebut Bunga(17) warga Desa Penampi Kecamatan Bengkalis, diduga korban pelecehan seksual oleh kepsek Mas Al-Huda Ridawan-red(41), membuat keluarga korban tidak terima atas prilaku kepsek terhadap anaknya Bunga. 

Orang Tua korban Faisal-red didampingi BPD desa Kelebok kecamatan Bengkalis melaporkan ke kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bengkalis, Sabtu(24/5/14). 

"Dalam laporan Bunga mengakui telah diperlakukan hal yang tidak wajar sebanyak 2 kali di ruangan Kepsek, dengan mencium pipi kanan, kiri dan kening, dengan berbagai alasan sementara Kepsek Ridwan memberikan upah Rp 50 Ribu, dengan alasan supaya korban mau bekerjasama/informen, menyangkut Siswa/siswi yang merokok dan tidak solat, “jelas Jarmawi selaku anggota BPD. 

Kita sudah melakukan beberapa kali pertemuan agar masalah ini tidak sampai keatas dan bisa di selesaikan tingkat desa, tetapi sampai saat ini pihak korban ingin melanjutkan membuat laporan ke P2TP2A Kab.Bengkalis, saya tidak bisa melarang karena ini keputusan pihak korban, "tambah Jarmawi.

"Saya selaku BPD setempat hanya bisa mendampingi dan mengetahui sampai dimana kelanjutan masalah ini, "papar Jarmawi. 

Sementara kepsek pada hari yang sama juga mendatangi Kantor Pemerdayaan Perempuan Dan Anak Kabupaten Bengkalis, kepsek Ridwan langsung di mintai keterang oleh Ketua P2TP2A Ely Kusumawati, Ridwan-red mengakui perbuatannya.

"Saye memohon maaf kepada pihak korban dan beliau akan mempertanggung jawabkan apa yang telah dia lakukan terhadap korban, dan kalau bisa masalah sampai di sini aja (P2TP2A-red) tidak perlu di perbesarkan lagi, "ujar Ridwan. 

Diakhir pertemuan oknum Kepsek Ridwan, menuduh Media massa karena telah memperbesarkan masalah ini, padahal masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, "ungkap Ridwan dengan kesal. 

Hal yang sama juga dilontarkan Ketua P2TP2A Kabupaten Bengkalis Ely Kusumawati, "kalau wartawan ini menyampaikan berita kebanyakan opini dan ini bisa menimbulkan masalah besar. 

"Kalau ada wartawan ataupun LSM yang nelpon bapak tidak perlu dilayani lagi,"pesan Ely kepada Kepsek Ridwan. (ferry)
- See more at: http://lineriau.blogspot.co.id/2014/05/kepsek-dan-ketua-p2tp2a-bengkalis.html#sthash.AD1A8kfh.dpuf

P2TP2A Bengkalis Minta Lapas Berikan Keringanan untuk Ujian

P2TP2A Bengkalis berikan perhatian khusus kepada pelajar yang terjerat kasus hukum. Mereka meminta keringanan untuk dapat mengikuti ujian.

Riauterkini-BENGKALIS- Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bengkalis berharap, pelajar yang berhadapan dengan hukum, memperoleh keringanan dari pihak Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Seperti para pelajar yang akan menjalani masa ujian sekolah.

Seperti terkait persoalan hukum SG, salah seorang pelajar kelas III di SMKN 1 Mandau yang terjerat kasus kecelakanaan lalu lintas (Lakalantas) dan saat ini berada di Lapas Kelas II A Bengkalis.

“Ini menjadi salah satu perhatian, karena SG merupakan pelajar sudah kelas III dan tidak lama lagi akan menghadapi ujian praktikum dan ujian sekolah. Kami berharap mendapat keringanan bisa ikut ujian dan tidak putus sekolah,” ungkap Enoki Raemon, salah seorang Pengurus P2TP2A Bengkalis, Senin (2/3/15).

Memenuhi harapan itu, Pengurus P2TP2A Bengkalis diantaranya Enoki Raemon Martini, Beny dan Khairul Saleh melakukan pertemuan dan dialog kepada pihak Lapas Kelas IIA Bengkalis.

“Dengan adanya pertemuan dan berdiskusi, Kami berharap kepala Lapas untuk memberikan kemudahan agar SG bisa mengikuti ujian di SMK Negeri 1 Mandau,” katanya lagi.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Bengkalis melalui Kepala Seksi Binadik Makhrob menyebutkan, bahwa membantu anak sekolah bermasalah dengan hukum adalah salah satu program Lapas. Namun, Ia menegaskan, harus ada jaminan yang disampaikan ke pihak Lapas.

“Tentunya perlu adanya jaminan, sehingga SG ini bisa mengikuti proses ujian di sekolah setempat,” paparnya.***(dik)

P2TP2A Bengkalis, Harap Pelaku Pembuangan Bayi Secepatnya Ditangkap


BENGKALIS, RIAUGREEN.COM - Pusat Pelayan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bengkalis berharap pihak Kepolisian mengusut tuntas dan menangkap pelaku pembuang bayi yang ditemukan tewas di Desa Kuala Alam Kecamatan Bengkalis pada Rabu 4 November 2015 lalu.

Hal tersebut diutarakan Ketua P2TP2A Kabupaten Bengkalis Eli Kusmawati melalui Sekretaris Yusnani saat ditemui, Senin (9/11/15).

Menurutnya, sesuai dengan tupoksi dan tugas pokok P2TP2A ketika menerima informasi dari masyarakat, pihaknya terus melakukan kordinasi dengan pihak- pihak terkait seperti pihak Kepolisian termasuk kasus mayat bayi yang ditemukan baru- baru ini di Kuala Alam.

"Kita berharap, dalam kasus pembuangan bayi yang ditemukan di desa Kuala Alam, pihak Kepolisian secepatnya melakukan penangkapan dan pelaku diproses secara hukum,"katanya.

Terhadap pelaku, Yusnani menyebutkan, jika pihak Kepolisian berhasil melakukan penangkapan pihaknya juga siap melakukan pendampingan. Selain itu, pihaknya juga akan menggali dari pelaku apa motif dari aksi nekat tersebut.

"Kita berharap pelaku menyerahkan diri, karena cepat atau lambat kasus ini pasti terungkap. Dan lembaga kami juga siap apa yang kiranya di butuhkan pelaku, misalnya perlu pengacara, akan kita siapkan. Karena dilembaga ini, baik itu korban maupun pelaku dan dia perempuan, kita akan dampingi,"pungkasnya. (d'ari)

Kasus Kekerasan Terhadap Anak Tercatat 45 Kasus

BENGKALIS, RIAUGREEN.COM- Kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Bengkalis ditahun 2015 ini tercatat 45 kasus. Dari 45 kasus yang dirangkum dari data yang ada di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bengkalis tersebut, mayoritas merupakan kasus pelecehan seksual anak dibawah umur.

"Dari kasus pengaduan di P2TP2A sepanjang tahun 2015 ini tercatat 45 kasus kekerasan terhadap anak, 75 persen dari itu merupakan kasus kekerasan seksual terhadap anak,"kata Yusnani Sekretaris P2TP2A Kabupaten Bengkalis, Senin (9/11/15).

Diungkapkannya, 45 kasus kekerasan terhadap anak tersebut, penyumbang terbesar berasal dari Kecamatan Mandau dan Pinggir. Pencegahan- pencegahan terhadap kasus- kasus tersebut, menurut Yusnani sudah dilakukan disetiap kecamatan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan P2TP2A selaku mitra.

"Anak itu makhluk yang lemah, mudah diperdaya, masih labil dan mudah dipengaruhi, faktor ini yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Ditambah lagi dengan lemahnya pengawasan dan perlindungan terhadap anak, umumnya kekerasan yang terjadi itu menimpa anak umur 6- 17 tahun, kita berharap semua pihak bisa bekerjasama melindungi generasi bangsa ini,"jelasnya.(d'ari)

Rabu, 25 Maret 2015

Dikeroyok Atas Dugaan Curi Cermin, Selvi Lapor P2TP2A Bengkalis


Pendidikan - Editor: MARDISNA - Selasa, 26/02/2013 - 19:30:07 WIB


BERITA RIAU (BENGKALIS), situsriau.com- Hanya gara-gara dituduh mencuri cermin rias, Selvi (17) siswi Kelas X 3 SMA Negeri 5 Desa Ketamputih, Kecamatan Bengkalis,
Kabupaten Bengkalis menjadi korban penganiayaan geng sekolah yang
sama-sama perempuan.  Penyebabnya, hanya gara-gara dituduh dan tidak terbukti mencuri cermin atau kaca rias wajah, Sabtu (23/2/2013) sekitar pukul 11.00 WIB.

Ironisnya, penganiayaan itu terjadi di salah satu ruang kelas di sekolah tersebut. Namun pihak sekolah tidak menanggapi dengan serius aksi premanisme ini. Bahkan, mengancam jika melaporkan peristiwa  tersebut, siswa dikeluarkan dari sekolah.

Akibat penganiyaan dengan pengeroyokan teman-temannya ini, Selvi menyisakan luka lebam cukup parah di bagian wajah sebelah kiri, serta masih merasakan sakit, pusing-pusing, mual-mual dan harus memperoleh perawatan intensif di rumah sakit.

Atas penganiayaan ini, Selvi  didampingi orang tuanya Ahmad (68), melaporkan kejadian itu ke Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bengkalis, Selasa (26/2/2013). Sebelumnya, kejadian ini juga sempat dilaporkan ke pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Bengkalis.

"Ya anak saya diperlakukan tidak wajar oleh teman-temannya perempuan di sekolah. Kejadian Sabtu pekan lalu, kami keberatan adanya pengeroyokan seperti ini. Anak saya jadi tidak bisa sekolah dan terus mengeluh kesakitan di kepala setelah dipukuli itu. Makanya saya melapor ke sini (P2TP2A),� ujar Ahmad saat ditemui.

Kemudian menurut Selvi, penganiayaan itu terjadi pada Sabtu lalu di dalam ruang kelas X II. Sebelumnya sekitar pukul 11.00 WIB, Selvi melintas di depan teman-teman yang perempuan dari kelas X II yang dikenal sebagai anggota geng pelajar putri di sekolah tersebut. Geng itu dimotori seorang murid dan menghina Selvi sebagai pencuri cermin.

Karena cemo'ohon tersebut Selvi meminta agar tidak diulang, karena ia tidak merasa mengambil hak siapapun. Karena cermin rias yang dibawanya adalah cermin miliknya sendiri selayaknya seorang anak perempuan.

"Atas permintaan tersebut, mereka marah dan menarik saya ke dalam kelas. Agar tidak bisa melawan saya dijagal (dipegangi, red) lalu ditinju habis-habisan di wajah dan sampai saya lemas di lantai,� terang Selvi.

Karena dikeroyok 6 (enam) orang, Selvi tidak bisa melawan. Para siswa yang berada di ruang kelas dan teman-teman Selvi tidak bisa berbuat banyak. Mereka takut semua, baik yang cewek maupun yang cowok.

"Karena jika ada yang melapor, guru mengancam akan dikeluarkan dari sekolah," kata Selvi lagi.

Adanya kasus 'premanisme' di sekolah ini, dan atas laporan keluarga korban, pihak P2TP2A segera menindaklanjuti.

"Kita akan segera menindaklanjuti laporan ini. Kita berupaya berkonsultasi di pihak Polsek Bengkalis karena kasus ini sudah sempat dilaporkan ke sana. Sejauh apa perkembangannya. Kemudian kita juga akan melakukan invenstigasi ke sekolah," ungkap Ketua P2TP2A Eli Kusumawati Heru.(lia)

Maraknya Kasus Sodomi, Satgas P2TP2A Bengkalis Minta Masyarakat Waspada


Bengkalis (riauoke.com) Satgas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bengkalis, Refri Amran Daud, (14/8) mengatakan kondisi kekinian, telah terjadinya pertistiwa sodomi dan kekerasan terhadap anak, dan jatuh korban jiwa.


"Kita minta kepada semua orang tua, agar selalu waspada terhadap hal-hal yang mencurigakan baik dilingkungan terdekat. Kita menghimbau kepada semua pihak berperan aktif terutama di tingkat RT dan RW,"katanya.

Refri menghimbau semua instansi pemerintah dan perusahaan, agar dapat mengampanyekan slogan anti kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan. "Sebagai bentuk sebuah kampanye anti kekerasan, maka pihak pemerintah agar dapat mengampanyekan stop kekerasan,terhadap anak-anak dan perempuan serta anti eksploitasi,"tambahnya.

Untuk menuju Bengkalis menjadi kota layak anak, menurut Refri maka salah satu mengaktifkan Polisi Masyarakat (Polmas,Red) sampai ke tingkat RW. "Polmas perlu diaktifkan kembali, agar ruang gerak, pelaku sodomi anak-anak dapat dipersempit,"terangnya.

Refri menyampaikan, kampanye anti kekerasan, terhadap anak-anak dan perempuan, dapat di mulai dari tingkatan terendah. "Rasa aman itu, dimulai dari lingkungan rumah tangga, kemudian diteruskan tingkatan Rukun Tetangga (RT,Red) hingga Rukun Warga (RW,Red). Keluarga adalah kawasan mendapatkan kenyamanan dan ketentraman anak-anak dan perempuan,"tegasnya.

Selanjutnya,lingkungan turut menjadi perhatian utama,para keluarga masyarakat di dalam satu kawasan domisili penduduk.

Selanjutnya menjadi pengawasan RT dan RW dalam mencipatlan rama aman dan nyaman satu kawasan.[] jonish

sumber: riauoke.com

Senin, 2 Maret 2015 17:08 Pelajar Terjerat Hukum, P2TP2A Bengkalis Minta Lapas Berikan Keringanan untuk Ujian

Riauterkini-BENGKALIS- Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bengkalis berharap, pelajar yang berhadapan dengan hukum, memperoleh keringanan dari pihak Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Seperti para pelajar yang akan menjalani masa ujian sekolah.

Seperti terkait persoalan hukum SG, salah seorang pelajar kelas III di SMKN 1 Mandau yang terjerat kasus kecelakanaan lalu lintas (Lakalantas) dan saat ini berada di Lapas Kelas II A Bengkalis.

“Ini menjadi salah satu perhatian, karena SG merupakan pelajar sudah kelas III dan tidak lama lagi akan menghadapi ujian praktikum dan ujian sekolah. Kami berharap mendapat keringanan bisa ikut ujian dan tidak putus sekolah,” ungkap Enoki Raemon, salah seorang Pengurus P2TP2A Bengkalis, Senin (2/3/15).

Memenuhi harapan itu, Pengurus P2TP2A Bengkalis diantaranya Enoki Raemon Martini, Beny dan Khairul Saleh melakukan pertemuan dan dialog kepada pihak Lapas Kelas IIA Bengkalis.

“Dengan adanya pertemuan dan berdiskusi, Kami berharap kepala Lapas untuk memberikan kemudahan agar SG bisa mengikuti ujian di SMK Negeri 1 Mandau,” katanya lagi.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Bengkalis melalui Kepala Seksi Binadik Makhrob menyebutkan, bahwa membantu anak sekolah bermasalah dengan hukum adalah salah satu program Lapas. Namun, Ia menegaskan, harus ada jaminan yang disampaikan ke pihak Lapas.

“Tentunya perlu adanya jaminan, sehingga SG ini bisa mengikuti proses ujian di sekolah setempat,” paparnya.***(dik)

Teks Foto : Pengurus P2TP2A Bengkalis melakukan pertemuan dengan pihak Lapas Kelas IIA Bengkalis, agar memberikan keringanan kepada pelajar yang bermasalah dengan hukum dalam rangka untuk mengikuti ujian, Senin (2/3/15). 

sumber: http://riauterkini.com